Halaman

Jumat, 25 November 2016

Dear Boys, Seri Manga yang Tak Akan Terlupakan


PUAS! Sepertinya hanya satu kata itu yang cocok dipakai untuk menggambarkan perasaanku setelah membaca jilid terakhir manga DEAR BOYS yang sudah kuikuti selama 12 tahun, meski sebenarnya mangakanya sendiri membutuhkan waktu 26 tahun untuk menyelesaikannya. Jika membacanya saja butuh begitu banyak kesabaran, aku nggak membayangkan gimana yang bikin, yang jelas Hiroki Yagami-sensei pasti sudah mengerahkan semua usaha terbaiknya untuk menggambar setiap halamannya. Dan aku sebagai pembaca hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Yagami-sensei karena sudah menyajikan sebuah cerita yang akan kuingat seumur hidup. Kupikir seperti inilah sebuah manga shonen harusnya berakhir, nggak perlu dikasih romance secara berlebihan, meski sebagai seorang cewek aku berharap Anzaki jadian dengan Touya. Wkwkwk ... tapi tak apa, ending yang dibuat Yagami-sensei menurut saya sudah lebih dari cukup. Baca Dear Boys emang bikin perasaan campursari, mulai dari seneng, tegang, kesel, bahkan sampai nangis, exited bangetlah pokoknya.




Dear Boys adalah manga sport pertama yang kubaca, manga yang membuatku mengenal dunia basket. Serius pertama kali baca, pengetahuanku tentang basket hanya bahwa bola basket itu warnanya oranye. Jangankan tentang chip out, bahkan aku nggak tahu apa artinya dunk. Tapi Aikawa, Fujiwara, Ishi, Dobashi, dan Miura membuatku mulai mencari tahu tentang dunia basket meski nggak lantas memainkannya atau jadi menggilai NBA. Aku hanya jadi tertarik pada cerita-cerita lain yang berhubungan dengan basket, makanya nggak sulit buatku untuk menyukai KnB, walaupun kadang aku geleng kepala liat kemampuan ajaib karakternya.


Harus kuakui kalau aku tertarik baca Dear Boys gara-gara gambar cowoknya yang keren-keren, seri pertama yang kubaca adalah vol. 1 Act. 2, makanya gambarnya keren-keren. Yang pertama bikin jatuh cinta adalah Fujiwara, lalu Hoshina (Honmoku), kemudian Touya, sementara untuk Aikawa aku nggak terlalu tertarik karena dia pendek─padahal tingginya 175 cm loh. Parah! Tapi mau gimana, waktu itu aku baru keluar dari zona manga shoujo. Jadi sedikit banyak masih kebawa hawa-hawa shoujo-nya. Hehe .... Gambar yang bagus ditambah cerita yang sama bagusnya bikin aku mulai ngikutin semua manganya, waktu itu Act. 2 berhenti di vol. 5, dan baru tiga tahun kemudian aku nemu lanjutannya. Aku hampir putus asa, kupikir Yagami-sensei nggak bakal bikin lanjutannya. Pas nemu lanjutan manganya di Gramedia, aku benar-benar happy, hampir teriak-teriak gaje bahkan. Malu-maluin kalo diingat lagi. Aku mulai membangun keyakinan kalau Yagami-sensei pasti akan menyelesaikan Dear Boys, dan keyakinan itu terbayar lunas sekarang. Aku padamu, sensei! Aku sangat bersyukur akhirnya bisa membaca akhir yang menyenangkan di vol. 21 Act. 3.
Seri Dear Boys sendiri ada tiga:
·         Dear Boys: The Early Days
·         Dear Boys Act II
·         Dear Boys Act III
Juga ada seri anime-nya yang disebut juga Hoop Days.


Dear Boys tidak hanya tentang pertandingan basket atau kemenangan, tapi juga tetang persahabatan, kepercayaan, dan hubungan. Dear Boys memperlihatkan sisi lain dari dunia basket yang bakal bikin jatuh cinta, bukan hanya pada karakter di dalamnya tapi juga pada alur ceritanya. Pokoknya kalau sudah baca nggak bakal nyesel. (Ann)


Jumat, 27 November 2015

Merindu

Menyapa pagi tanpa hadirmu
Menghanyut rasa yang goreskan luka
Kau di sana bagaimana?

Melawan siang tanpa senyummu
Tancapkan sendu yang menyimpan lara
Samakah kau di sana?

Meniti senja tanpa belaimu
Goreskan rindu yang merobek asa
Mungkinkah di sana kau juga merasa?

Menggelar malam tanpa cintamu
Hampa ... deraikan air mata
Cinta ... merindukah kau di sana?
Kasih ... sampai kapankah harus kurajut asa?
Aku ingin bertemu, ingin berjumpa


by Ann
Banjarmasin, 28 November 2015

Kamis, 19 November 2015

Pilihanku

...
Undangan berwarna gading itu sampai kepadaku hari ini, bukan langsung dari mempelai yang berbahagia, namun dikirimkan lewat seorang teman sekantorku. Tak mengapa, karena pastinya dia enggan menyampaikannya langsung kepadaku mengingat masa lalu kami.
Di bagian depan undangan tertulis inisial MR. Pastinya inisial M untuk Mahardika, calon pengantin pria, sedang R, aku masih harus mencari tahu terlebih dahulu. Kutarik pita satin yang mengikat undangan, membuka lembaran kertas undangan yang dilipat menjadi tiga bagian itu. Tinta emas mengukir huruf-huruf di dalam undangan itu, kubaca dari atas dengan perlahan. Aku sengaja membaca dengan lambat, sebab sebenarnya di dalam hatiku ada perasaan perih menggores saat kuterima undangan itu. Andai waktu itu kuterima pinangan Ardi pastinya inisial yang tertulis di undangan itu adalah MA—Mahardika-Ambarwati. Ingatanku seketika terbang ke enam bulan lalu, saat aku dan Ardi masih sepasang kekasih.
...
Aku dan Ardi duduk berhadapan di The Perfecto, sebuah restoran Italia yang paling sering kami datangi karena dekat dengan kantorku. Suasana siang itu cukup ramai sebab bertepatan dengan jam makan siang. Tamu-tamu restoran didominasi oleh karyawan kantoran seperti kami, ada yang terlihat santai, adapula yang terlihat tergesa, ada yang terlihat stress, adapula yang semringah.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini, lancar?” tanya Ardi sambari menyendok sup makaroninya, dan memasukkannya ke mulut.
“Baik. Lancar,” jawabku, tanpa mengangkat mata dari ponsel. Aku baru saja menerima email dari supplier yang mengatakan bahwa pengiriman bahan baku akan mengalami keterlambatan. Ini akan menjadi masalah, keterlambatan pasokan bahan baku akan menghambat produksi, dan artinya akan menghancurkan jadwal lauching produk yang sudah kurencanakan. Aku harus cepat menangani hal ini secepatnya. Ini pekerjaan pertamaku setelah aku dipromosikan menjadi manajer bagian produksi, dan aku tidak memberi kesal seolah aku tidak becus menjalankan kewajibanku. “Sebentar,” ujarku pada Ardi sebelum menghubungi supplierku melalui telepon.
Kuhabiskan sekitar sepuluh menit di telepon, berdiskusi singkat dengan pihak supplier, tetapi tak membuahkan hasil yang menggembirakan. Sepertinya aku harus mendatangi mereka langsung guna meminta kepastian.
“Maaf, ada sedikit masalah dengan pihak supplier.” Aku berusaha menjelaskan karena kulihat wajah Ardi tampak tidak senang. Ia menghentikan makannya dan memandangiku. “Ini jam istirahat, kenapa masih mengurusi pekerjaan?” tanyanya. Dari kata-katanya terdengar  jelas ia belum menerima permintaan maafku.
“Maaf, Di. Tapi itu tadi mendesak, pihak supplier—
Ardi mengangkat tangannya, isyarat itu seketika menghentikan kata-kataku.
“Aku mengerti tentang pekerjaanmu, tetapi rasanya akhir-akhir ini kau sudah kelewatan,” ujar Ardi.
“Kelewatan bagaimana?” tanyaku bingung.
“Kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada aku,” sahut Ardi. “Kadang aku merasa percuma saja kita pergi berdua, makan bersama karena toh kau selalu asyik dengan gadgetsmu, entah itu ponsel, tablet, atau laptop. Gadgets seolah alat pacu jantung bagimu, tanpa benda-benda itu mungkin kau akan sekarat.”
Kuamati lekat sosok yang duduk di hadapanku itu. Begitukah aku di matanya?
“Kau terlalu berlebihan,” sahutku sembari meraih gelas air putih dan menandaskan isinya. “Aku tidak gila kerja.”
“O ya?” Ardi bersidekap. Matanya memandang lurus kepadaku. “Kau bekerja dua belas jam sehari, Ambar. Masuk jam sembilan pagi, pulang jam sepuluh atau sebelas malam. Apa namanya kalau bukan gila kerja?”
“Kau juga terkadang bekerja sampai tengah malam,” sahutku ketus. Aku kesal karena Ardi menyebutku gila kerja. Kuakui akhir-akhir ini aku memang sering lembur, tetapi itu karena sebentar lagi ada peluncuran produk baru, sebelum ini aku tidak terlalu sering lembur.
“Hanya jika harus menyelesaikan desain dan coding program yang rumit, dan itu pun jarang,” ujar Ardi. “Dan yang paling penting, aku tidak pernah membawa-bawa pekerjaanku di tengah kencan kita.”
Kata-kata Ardi menohokku. Ia benar. Selama ini ia memang tidak pernah membawa pekerjaanku jika sedang bersamaku. Saat kami bersama ia melupakan semua pekerjaannya sebagai seorang programmer, ia mencurahkan semua perhatian kepadaku. Aku pun begitu ... dulu.
Dahulu, ketika kami berkencan, kami akan berkeliling menjelajahi kota, mengunjungi tempat-tempat unik, atau berwisata kuliner. Dahulu,  kami mengobrol dengan bermacam topik, mulai dari yang serius sampai yang absurd. Dahulu, aku selalu mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Ardi, semua kisah yang ia ceritakan, semua lelucon yang ia bagikan.
Kini, setelah aku bekerja dan mulai meniti karir, kami jarang berkencan. Kalau pun kami bertemu itu hanya untuk makan siang atau malam bersama. Kami hampir tak pernah menghabiskan akhir pekan bersama lagi, karena aku lebih sering menghabiskan akhir pekan melakukan kunjungan kerja ke luar kota. Rasanya sudah begitu lama aku tidak duduk di sebelah Ardi dan mendengarkan kisahnya, leluconnya. Aku yang sekarang memang lebih sering memegang gadgetsku dibanding menggenggam tangan Ardi.
“Aku....”
“Aku cemburu pada pekerjaanmu yang selalu mendapat perhatian darimu,” ujar Ardi pelan, ia sudah tak lagi bersidekap, tangannya kini mengaduk-aduk sup makaroninya tanpa niat untuk memakannya. “Kadang kupikir kau lebih mencintai pekerjaanmu daripada aku,” ia melanjutkan.
Cepat kuraih tangan Ardi, menggenggamnya erat. “Aku mencintaimu,” ujarku.
Mata Ardi kembali menatapku. “Kau yang dulu mencintaiku,” sahutnya.
“Yang sekarang pun sama.”  Dengan cepat aku menimpali.
“Tak sebesar dulu kurasa,” ujarnya hambar.
“Kau meragukanku?” Kurasakan mataku mulai basah. “Bagaimana caranya aku membuktikan perasaanku padamu?”
“Kurasa....”
Tepat saat Ardi mulai bicara ponselku kembali berbunyi. Awalnya ingin kuabaikan tetapi setelah melihat panggilan itu dari atasanku, segera kulepas tangan Ardi dan meraih ponselku. Kulihat mata Ardi menyorot marah, tetapi tak kuacuhkan. Akan kujelaskan padanya nanti setelah panggilan ini berakhir.
Selama aku berbicara di telepon mata Ardi tak lepas dariku, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan tak sabar. Aku hanya bisa memberikan jawaban singkat pada atasanku, dan saat kupikir Ardi akan meledak atasanku menyudahi percakapan kami, dan memutuskan sambungan.
“Maaf, tadi itu Pak Djoko, aku tidak mungkin mengabaikannya,” jelasku dengan nada memohon, berharap Ardi memberikan pengertiannya.
“Ambar.” Ardi mengulurkan tangan, menyentuh tanganku. “Antara uang atau cinta, kau pilih mana?”
Keningku berkerut. “Pertanyaanmu aneh, Di.”
Ia menggeleng. “Biar kubuat lebih simpel. Uang adalah pekerjaanmu, dan cinta adalah aku...” Ia menggantung kalimatnya sesaat untuk mengamatiku, dan ia pasti menyadari kerutan di keningku semakin dalam. “Di antara keduanya mana yang kau pilih?”
“Apa maksud pertanyaanmu?” Aku balik bertanya dengan hati berjengit.
“Aku bermaksud melamarmu, tetapi aku ingin setelah menikah kau jadi ibu rumah tangga saja,” jawab Ardi.
“Maksudmu aku harus berhenti bekerja?” tanyaku marah.
“Iya.” Ardi menjawab dengan lugas.
Aku menggeleng. “Aku tidak mau,” ujarku. “Ini impianku, Di.”
“Itukah pilihanmu?” Ardi melepas genggamannya.
“Ya,” jawabku. “Karirku sedang bagus-bagusnya sekarang, aku tidak mungkin melepaskannya. Dan untuk pernikahan ... Kurasa ini bukan waktu yang tepat.”
Wajah Ardi tampak pias, sudut-sudut bibirnya turun, tak pernah kulihat ia tampak begitu pasrah, begitu sakit hati atas ucapanku. “Aku mengerti,” ujarnya lemah.
“Di, aku....” Pikiranku seketika kosong, tak kutemukan kata yang sesuai untuk menjelaskan kepadanya.
Terdengar helaan napas dari Ardi sebelum ia berkata, “Sepertinya kalau kita paksakan hubungan ini, kita akan semakin saling menyakiti ya?”
Deg! Seketika jantungku berdebar tak karuan. “Maksudmu?”
“Kau punya masalah sendiri, aku pun demikian. Dan, kita berdua sudah tidak mampu lagi untuk saling mengerti. Kita tidak lagi sejalan, Ambar.”
“M-maksudmu?” Aku terbata. Rasanya ingin kututup saja telingaku sekarang, aku tidak mau mendengar jawabannya, tidak mau mendengar kata-katanya.
“Kita lanjutkan kehidupan kita masing-masing. Dengan pilihan hidup kita masing-masing, semoga setelah ini kita berdua bisa berbahagia meski tak lagi bersama.”
Otakku lumpuh. Selama beberapa saat aku hanya bisa memandangi Ardi dengan tatapan tak percaya. “A-aku....”
“Maaf, Ambar.”
Aku tertunduk dalam. Sekuat tenaga kutahan air mataku. Aku tak ingin menangis, tak akan menangis di depan Ardi. Jadi kutegakkan punggungku, kuangkat wajahku, dan kuberikan senyuman terbaikku. “Jika ini memang yang terbaik bagi kita,” ujarku dengan suara bergetar, ternyata aku tak cukup ahli menyembunyikan kegetiranku. “Terima kasih untuk semuanya, Di.”
Ardi hanya mengangguk. Saat kuperhatikan ia, kulihat ada perasaan lega di wajahnya. Kurasa ia memang sudah mengambil keputusan ini sejak lama.
...
Pikiranku kembali ke masa sekarang, ke undangan gading yang masing kugenggam di tanganku.
Uang atau cinta, huh?
Yah, bisa dibilang waktu itu aku lebih memilih uang dibandingkan cinta. Bukan karena aku tidak mencintai Ardi. Aku mencintainya, sungguh. Hanya saja saat dia menyuruhku berhenti bekerja setelah menikah, aku tidak bisa menerimanya. Realistis saja, aku punya pekerjaan dengan jenjang karir yang bagus ke depannya, dan rasanya bodoh jika aku melepaskannya demi seseorang pria yang tidak mendukung impianku.
Kulanjutkan kembali membaca, mataku berhenti cukup lama di nama mempelai wanita. Raisya Azzahra. Jadi wanita inilah yang menjadi pelabuhan hati Ardi kini. Dialah wanita yang Ardi rasa tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Hatiku serasa diremas. Sakit. Namun apalah dayaku, Ardi memang bukan jodohku. Pilihanku membuat kami melangkah di jalan yang berbeda.
Jika ditanya apakah aku menyesal melepaskan Ardi? Ya, aku sedikit menyesal. Tetapi karena aku sudah memilih, dan akan kujalani pilihanku. Biar pun pedih, biar pun sakit, harus kuterima.
...
fin
...

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Sabtu, 21 September 2013

Marry You

"Marry You"
By
Bruno Mars

It's a beautiful night,
We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.

 ini adalah malam yang indah
Kita mencari hal konyol untuk dilakukan
Hey sayang,
Ku pikir aku ingin menikah denganmu

Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.

Apakah yang terlihat di matamu itu?
Atau itu tarian warna dari jus?
Siapa yang peduli sayang
Ku pikir aku ingin menikah denganmu

Well I know this little chapel on the boulevard we can go,
No one will know,
Oh, come on, girl.
Who cares if we're trashed got a pocket full of cash we can blow,
Shots of patron,
And it's on, girl.

Yah aku tahu ini kapel kecil di boulevard kita bisa pergi,
Tak seorang pun akan tahu,
Oh, ayolah, gadis.
Siapa yang peduli jika kita membuang saku penuh uang kita pergi,
Gambar dari drama,
Dan itu dimulai, gadis.

Don't say no, no, no, no-no;
Just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
And we'll go, go, go, go-go.
If you're ready, like I'm ready.

Jangan katakan tidak, tidak, tidak, tidak-tidak
Hanya katakan ya, ya, ya, ya-ya
Dan kita pergi, pergi, pergi, pergi-pergi
Jika kau siap seperti aku

Cause it's a beautiful night,
We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.

Karena ini adalah malam yang indah
Kita mencari hal konyol untuk dilakukan
Hey sayang,
Ku pikir aku ingin menikah denganmu

Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.

Apakah yang terlihat di matamu itu?
Atau itu tarian warna dari  jus?
Siapa yang peduli sayang
Ku pikir aku ingin menikah denganmu

I'll go get a ring let the choir bells sing like oooh,
So what you wanna do?
Let's just run girl.

Aku akan pergi mendapatkan cincin membiarkan lonceng paduan suara bernyanyi seperti oooh,
Jadi apa yang Anda ingin lakukan?
Mari gadis hanya dijalankan.

If we wake up and you wanna break up that's cool.
No, I won't blame you;
It was fun, girl.

Jika kita bangun dan Anda ingin putus itu keren.
Tidak, saya tidak akan menyalahkan Anda;
Itu menyenangkan, gadis.

Don't say no, no, no, no-no;
Just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
And we'll go, go, go, go-go.
If you're ready, like I'm ready.
Jangan katakan tidak, tidak, tidak, tidak-tidak
Hanya katakan ya, ya, ya, ya-ya
Dan kita pergi, pergi, pergi, pergi-pergi
Jika kau siap seperti aku 

Cause it's a beautiful night,
We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.

Karena ini adalah malam yang indah
Kita mencari hal konyol untuk dilakukan
Hey sayang,
Ku pikir aku ingin menikah denganmu

Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.

Apakah yang terlihat di matamu itu?
Atau itu tarian warna dari jus?
Siapa yang peduli sayang
Ku pikir aku ingin menikah denganmu

[x2]
Just say I do,
Tell me right now baby,
Tell me right now baby, baby.

Hanya katakan kau setuju
Katakan sekarang padaku, sayang
Katakan padaku sekarang, sayang

Oh, it's a beautiful night,
We're looking for something dumb to do.
Hey baby,
I think I wanna marry you.

Karena ini adalah malam yang indah
Kita mencari hal konyol untuk dilakukan
Hey sayang,
Ku pikir aku ingin menikah denganmu

Is it the look in your eyes,
Or is it this dancing juice?
Who cares baby,
I think I wanna marry you.

Apakah yang terlihat di matamu itu?
Atau itu tarian warna dari jus?
Siapa yang peduli sayang
Ku pikir aku ingin menikah denganmu



Selasa, 12 Juni 2012

I'm Gone


I’m Gone
By Jay Sean

I don’t want to have to see you happy,
I ca’t ever bare to see you smile,
Now a days I can’t look in your eyes,
Well, I can but it takes a while,
Does it show?
Told a lot of white lies to hide it all,
But they’re beginning to break me down,
But I promise it’s over now,

I’m gone
I don’t blame you at all,
‘cause after all the of the things that you did for me,
Got beaten by temptation,
I’m gone
Girl, you’re better off alone,
I don’t want you to see, the truth in me,
I’m gone,,, I’m gone,,,
Ohhhh,,,,,

I tried my best to keep it all together,
Tryna take it back to where we are,
Never been too good at keeping secrets,
I’ll give you reasons but for what it’s worth,
Lemme go,
What the hell would make you look at me the same?
Used to say “we’re unbreakeable”
But  I just went and change it all

See, if I told you?
Could you live with that?
If I told you?
Could you live with that?
If I told you,
I couldn’t live with that! I Couldn’t live with that!
Noo,,,,
I’d rather give you no excuses at all

I’m gone
I don’t blame you at all,
‘cause after all the of the things that you did for me,
Got beaten by temptation,
I’m gone
Girl, you’re better off alone,
I don’t want you to see, the truth in me,
I’m gone,,, I’m gone,,,
Ohhhh,,,,,
You gave everything and honestly it’s every fault of mine
To beg you for forgiveness just seems wrong
See, leaving you is one thing
But you’re got realize :
Somethings are best unspoken
So please don’t ask me why
Oh, you don’t want to know
Oh, woah,,,

I’m gone
I don’t blame you at all,
‘cause after all the of the things that you did for me,
Got beaten by temptation,
I’m gone
Girl, you’re better off alone,
I don’t want you to see, the truth in me,
I’m gone,,, I’m gone,,,
Ohhhh,,,,,


Terjemahanku :


Aku Pergi

Aku tidak ingin melihatmu bahagia
Aku bahkan tak sanggup melihatmu tersenyum
Sekarang aku tak bisa menatap matamu,
Dan…
Yah, aku bisa tapi itu butuh waktu,
Bukankah itu terlihat?
Menceritakan banyak kebohongan putih untuk menyembunyikan semuanya.
Tapi kebohongan-kebohongan itu mulai menghancurkanku,
Tapi aku janji itu sudah berakhir sekarang.

Aku pergi
Ku tak menyalahkanmu sama sekali
Karena semua yang telah kau lakukan untukku
Terhapus pergi oleh godaan
Sayang, kau lebih baik sendiri
Aku tak ingin kau melihat kebenaran dalam diriku
Aku pergi,,, aku pergi,,,
Ohhh,,,,

Aku mencoba yang terbaik untuk menjaga semuanya,
Mencoba membawany kembali seperti semula,
Tak terlalu pandai menyimpan rahasia,
Aku bisa memberi alasan tapi apa itu berguna,
Biarkan aku pergi,
Apa yang bisa membuatmu melihatku sama seperti dulu?
Untuk bisa mengatakan “Kita tak terpisahkan”
Tapi aku hanya pergi dan merubah semuanya

Lihat, jika ku katakan?
Bisakah kau hidup dengan itu?
Jika ku katakan?
Bisakah kau hidup dengan itu?
Jika ku katakan,
Aku tidak bisa hidup dengan itu! Aku tidak bisa hidup dengan itu!
tidak,
Saya lebih suka tidak memberikan alasan sama sekali.

Aku pergi
Ku tak menyalahkanmu sama sekali
Karena semua yang telah kau lakukan untukku
Terhapus pergi oleh godaan
Sayang, kau lebih baik sendiri
Aku tak ingin kau melihat kebenaran dalam diriku
Aku pergi,,, aku pergi,,,
Ohhh,,,,

Kau telah memberikan segalanya dan jujur ​​itu semuanya kesalahan saya,
Sepertinya salah untuk meminta pengampunanmu,
Lihat, meninggalkanmu adalah satu-satunya cara
Tapi kau harus menyadari:
Beberapa hal sebaiknya tak terucapkan
Jadi jangan tanya kenapa,
Oh, Anda tidak ingin tahu
Oh, woah

Aku pergi
Ku tak menyalahkanmu sama sekali
Karena semua yang telah kau lakukan untukku
Terhapus pergi oleh godaan
Sayang, kau lebih baik sendiri
Aku tak ingin kau melihat kebenaran dalam diriku
Itulah mengapa aku pergi,,,
Aku pergi,
Aku pergi,
Selamat tinggal,
Aku pergi




Minggu, 08 April 2012

[Holiday Writing Challenge] Pindahkan Genrenya!


Flavor of Love
a novel by Al Dhimas
Halaman 248-249

Ini yang aslinya :
Aro mendesis, “Ini benar-benar konyol….”
“Nggak ada bedanya sama yang kamu buat ke Ben, kan?!”
Aro menatapku saat menyebut nama Ben.
“Kamu masih nggak berubah ya, Ro. Rasanya udah ratusan kali aku bilang kalo kamu nggak perlu cemburu sama Ben atau semua laki-laki yang dekat dengan aku,” cetusku.
“Itu gara-gara kamu nggak pernah tahu kalo aku bener-bener sayang sama kamu!” Ia membela diri.
“Gimana aku tahu kalo kamu nggak pernah bilang sama aku?”
“…”                    
“…”
“Aku… aku… aku….”
Aku tersenyum melihat Aro terbata-bata seperti ini. Semua amarah dan kecewa tiba-tiba lenyap dan menguap tak bersisa. Aku menari tangannya dan membawanya duduk bersamaku di sofa.
“Kenapa aku nggak bisa marah lama-lama sama kamu ya, Ro?” Kata-kataku lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.
“Nggak tahulah. Aku juga merasa kayak gitu sama kamu.”
Tahu-tahu Aro sudah membelai rambutku.
“Tara mungkin cantik, tapi kamu… istimewa,” ujarnya terdengar sungguh-sungguh.
“Gombal kamu ….”Aku tersenyum malu-malu sambil mendorongnya pelan.
Desiran itu kembali hadir saat jari-jemari Aro menyentuh jari tanganku. Kali ini tidak meletup-letup seperti dulu tapi hangat.
“Kamu tahu …. Setiap melihat kamu rasanya aku seperti menemukan kepingan yang hilang dalam hidupku,” ujarnya lembut, “you complete me,” tambahnya.
It’s not Jerry McGuire. Aro yang mengucapkan kata-kata itu padaku. Sesaat aku seperti kehilangan kemampuan untuk bicara. Rasanya aku tidak yakin dengan apa yang kudengar barusan.
“Udahlah, Ro ….”
“Beneran, Pru.”
Kata-kata itu terdengar seperti alunan melodi indah yang dimainkan orchestra paling sohor di jagad ini, di telingaku. Ada hangat yang mengalir saat aku menyandarkan tubuhku di dada Aro.


Ku ubah genrenya menjadi :
Aro mendesis, “Ini benar-benar konyol…. .”Aro mencoba melepaskan ikatan yang menguncinya di kursi .
“Nggak ada bedanya sama yang kamu buat ke Ben, kan?” Aku berbisik ditelinganya.
Aro menatapku saat menyebut nama Ben. Mungkin dia terkejut karena aku tahu tentang apa yang dilakukannya pada Ben.
“Kamu masih nggak berubah ya, Ro. Rasanya udah ratusan kali aku bilang kalo kamu nggak perlu cemburu sama Ben atau semua laki-laki yang dekat dengan aku,” ucapku sambil melangkah menuju kursi yang sengaja kuletakkan didepan Aro dan mendudukinya.
“Itu gara-gara kamu nggak pernah tahu kalo aku bener-bener sayang sama kamu!!!” Teriak Aro.
Braaakkk!!!
Aku menggebrak meja kayu yang berada diantara kami, menjatuhkan beberapa benda yang tadinya berada dipinggiran meja. “Gimana aku tahu kalo kamu nggak pernah bilang sama aku?!” Suaraku tak kalah nyaring dari Aro. Semua ini membuatku muak. Apa yang Aro lakukan pada Ben dan semua laki-laki yang dekat denganku sungguh membuatku marah, membuatku benci padanya. Tapi ….
“…”                    
“…”
“Aku… aku… aku….” Aro terbata. Tak seperti Aro yang biasanya percaya diri sekarang ia terlihat rapuh dan takut. Ya, ia takut. Apa yang ia takutkan? Takut aku membencinya karena apa yang diperbuatnya dan kehilanganku karenanya?
Aku menyandarkan diri dikursi, memejamkan mata mencoba menenangkan diri. Aro melakukan semuanya karena aku, karena ia menyayangiku. Tapi tetap saja yang ia perbuat salah, bukan begitu caranya menyayangi seseorang, Ro. Bukan begitu!
 Aku menghela nafas dan membuka mataku perlahan. Didepanku masih ada Aro yang masih terikat dikursi. Menunggu dalam diam.
“Kenapa aku nggak bisa marah lama-lama sama kamu ya, Ro?” ucapku pelan tapi aku yakin Aro masih dapat mendengarnya.
“Nggak tahulah. Aku juga merasa kayak gitu sama kamu.” Sahutnya enteng.
 “Tara mungkin cantik, tapi kamu… istimewa,” Aro terdengar bersungguh-sungguh.
Aku menatapnya. “Gombal kamu ….”
Kalau Aro mengatakannya kemarin sebelum aku tahu tentang Ben dan semua yang dilakukannya aku pasti sangat bahagia mendengar kata-kata itu. Tapi mendengarnya sekarang, entah apa yang kurasakan ….
 “Kamu tahu …. Setiap melihat kamu rasanya aku seperti menemukan kepingan yang hilang dalam hidupku,” Aro menatapku. Matanya terlihat sedih, “you complete me,” ucapnya.
 “Udahlah, Ro ….”
“Beneran, Pru.”
Kami hanya terdiam. Lama. Sampai suara sirine polisi menyentakkanku pada kenyataan. Aro menatapku, tatapannya sulit kuartikan. Sedihkah kamu Aro? Marahkah? Ataukah benci sekarang padaku?
Tapi kemudian ia tersenyum. Senyum yang selama ini selalu dia berikan padaku dan hanya untukku.
Aku berjalan menghampirinya, dan mulai melepas ikatannya. Aro diam tapi matanya mengikuti setiap gerakannku. Aku meraih tangan Aro dan menggenggamnya erat. Diam-diam aku mengucapkan sumpah dalam hati.
Aku akan menunggumu, pasti menunggumu.